Latest Article Get our latest posts by subscribing this site
Showing posts with label Doa dan Wirid. Show all posts
Showing posts with label Doa dan Wirid. Show all posts

Wednesday, 5 February 2014

Hikmah disyariatkannya do'a



Berkali-kali Allah ta'ala dalam al-Qur'an menyeru kepada hambaNya untuk berdo'a kepadaNya. Tidak hanya itu, Dia Azza wa Jalla juga memberi kepastian akan memperkenankan do'a setiap hambaNya apabila mau berdo'a. Firman -Nya:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة/2: 186)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka , bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi  dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (TQS. Al-Baqarah/2: 186).
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (غافر/40: 60)
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku  akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (TQS. Ghafir/40: 60)
          Allah ta'ala juga membimbing hambaNya dalam berdo'a. FirmanNya:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (الأعراف/7: 55)

Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas .(TQS. Al-A'raf/7: 55).
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (غافر/40: 14)
Maka berdo'alah kepada (sembahlah) Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, (TQS. Ghafir/40: 14)
          Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam juga menuntun umat beliau untuk selalu berdo'a dan menunjukkan keutamaan do'a.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ ثم قرأ : ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ (رواه الترمذي و الحاكم)
          Sesungguhnya do'a adalah ibadah. Kemudian beliau membaca:  "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (HR. Imam Tirmidzi dan Hakim).
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الدُّعَاءِ (رواه الترمذي و الحاكم)
          Dari sahabat Abi Hurairah (semoga Allah meridhainya) sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dalam pandangan Allah selain do'a. (HR. Imam Tirmidzi dan Hakim).
          Tahukah anda mengapa Allah ta'ala dan Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam menyeru sedemikian rupa?
          Hikmah yang dapat diambil (selain dari do'a sebagai ibadah tersendiri) adalah karena do'a merupakan tali penghubung yang paling kuat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Dengan do'a seorang hamba akan selalu ingat kepada Rabbnya dalam keadaan dan situasi bagaimanapun. Dalam keadaan gembira ia akan bersyukur seraya berdo'a dengan do'a syukur, ia ingat Rabbnya.
Begitu juga ketika dalam keadaan susah, ia akan berdo'a agar terlepas dari kesusahan yang menimpanya, ia ingat Rabbnya. Ketika membutuhkan sesuatu ia akan berdo'a agar mendapatkan sesuatu yang ia butuhkan, dengan do'a ini ia ingat kepada Rabbnya dan begitu seterusnya. Hingga ia tidak akan terjerembab pada dosa terbesar, syirik, dengan meminta kepada selain  Rabbnya, Allah ta'ala.
          Dengan do'a, Allah ta'ala mengikat hambaNya untuk selalu ingat kepadaNya. Dalam sehari-semalam Allah ta'ala mewajibkan kepada semua hambaNya untuk mejalankan shalat lima waktu, di dalamnya berisi rangkaian gerakan yang diisi dengan do'a.
Disamping  shalat lima waktu, Dia ta'ala membuka peluang lebar-lebar kepada hambaNya untuk menjalankan shalat-shalat sunnah yang bisa dikerjakan pada banyak waktu dengan hitungan rakaat yang tak dibatasi, semua itu agar hambaNya selalu ingat kepada Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.
Di luar shalat, Allah ta'ala lewat RasulNya memberikan berbagai macam dan jenis do'a. Ketika bangun tidur atau menjelang tidur, ketika masuk pagi hari atau kala menjelang malam hari, ketika mau makan atau minum, dan lain sebagainya, Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam memberi tuntunan dalam berdo'a. 
          Inilah hikmah terbesar dari disyariatkannya do'a. Darisinilah kala Allah ta'ala memerintahkan berdo'a dan ia berjanji akan memperkenankan do'a yang dipanjatkan setiap hambaNya.
اُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ (غافر/40: 60)
"Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu". (TQS. Ghafir/40: 60)

Ketahuilah bahwa Dia berjanji, dan Dia tidak akan memungkiri janjiNya[1].
Firman Allah ini juga mengandung hikmah tersembunyi dari disyariatkannya do'a, yaitu olehnya Dia memperkenankan do'a tersebut. Ketahuilah bahwa setiap do'a pasti diperkenankan olehNya akan tetapi adakalanya Allah menyegerakannya di dunia dan adakalanya Allah menyimpannya.
Tatkala do'a tidak diperkenankan oleh Allah di dunia, maka ketahuilah bahwa Dia menyimpan do'a tersebut untuk hambaNya kelak pada saat dia lebih membutuhkan tumpukan-tumpukan amal shaleh untuk tibangan amal baiknya. Yaitu pada hari hisab. Sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu 'alahi wa sallam:
«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ, إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثِ خِصَالٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ, وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ, وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا» قَالُوْا: إِذاً نُكْثِرُ ؟ قال: «اللهُ أَكْثَرُ», (رواه احمد والبزار وأبو يعلى بأسانيد جيدة والحاكم وقال صحيح الإسناد)
"Tidak ada dari seorang muslim yang berdo'a kepada Allah Azza wa  Jalla dengan sebuah do'a yang bukan dosa atau memutus tali persaudaraan, kecuali Allah akan memberinya satu diantara tiga perkara: Adakalanya Allah memberi apa yang ia minta, adakalanya Allah menyimpan do'a tersebut untuknya kelak di akhirat, dan adakalanya Allah memalingkan kejelekan darinya". (HR. Imam Ahmad, Bazzar, Abu Ya'la, dengan sanad-sanad yang bagus, dan Imam Hakim, dan dia berkata: sanadnya sahih)


[1] Mujabud da'wah: 5-6. Dengan penambahan dan pengurangan.

Pengertian Do'a

Menurut bahasa do'a berasal dari kata "da'a" artinya memanggil. Sedangkan menurut istilah syara' do'a berarti memohon atau meminta suatu yang bersifat baik kepada Allah SWT seperti meminta keselamatan hidup, rizki yang halal dan keteguhan iman dan lain-lainnya atau memohon agar terhindar dari perkara yang tidak baik seperti memohon agar tidak terkena musibah dan lain-lainnya.
Berkali-kali Allah ta'ala memerintahkan hambaNya untuk berdo'a kepadaNya. Dalam firmanNya disebutkan :
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً (الأعراف/7: 55)
Artinya: “Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (TQS. Al-A'raf/7: 55)
          اُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ (غافر/40: 60)   
Artinya: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (TQS. Ghaafir/40: 60)
Dalam sabdanya Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa do'a adalah senjatanya orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الدُّعَاءُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ (رواه الحاكم)
Artinya: “Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Do'a adalah pedang orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi”. (HR. Imam Hakim).
Dalam Al-Quran banyak sekali kata-kata do'a mengandung pengertian yang bebeda. Dalam 'ulumul qur'an hal ini dinamakan dengan al-Wujuuh wa an-Nadhaiir, yaitu satu lafadz yang mempunyai pengertian dan makna yang berbeda-beda. Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqon 1: 144, menjelaskan beberapa pengertian dari kata do'a.
Pertama, do'a dalam pengertian "Ibadah." Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 106.
        وَلاَ تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ (يونس/10: 106)
Artinya: "Dan janganlah kamu beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula mendatangkan madarat kepada engkau." (TQS. Yunus/10: 106).
Maksud kata berdo'a di atas adalah ber-"ibadah" (menyembah). Maksudnya janganla kamu menyembah pada selain Allah ta'ala yang apabila kamu menyembahnya maka ia tidak bisa memberi manfaat kepadamu begitu juga kala kamu tidak menyembahnya, ia tidak akan bisa mendatangkan madharat kepadamu. (tafsir al-Qurtubi).
Kedua, doa dalam pengertian "al-Isti'anah" (memohon bantuan dan pertolongan). Seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 23 dibawah ini.
        وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ (البقرة/2: 23)
Artinya: "Dan berdo'alah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat membantumu."
Maksud kata ber-"doa" (wad'u) dalam ayat ini, adalah "al-Isti'anah" (meminta bantuan, atau pertolongan). Artinya mintalah bantuan atau pertolongan dari orang yang kamu temui dari ulama-ulamamu. (tafsir al-Qurtubi).
Ketiga, Doa dalam pengertian "permintaan" atau "permohonan." Seperti dalam Al-Quran surah Ghafir ayat 60 dibawah ini.
          ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ (غافر/40: 60)
Artinya: "Berdo'alah (memintalah) kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.(TQS. Ghafir/40: 60)
Maksud kata "Doa" (ud'ûnî) dalam ayat ini adalah, "memohon" atau "meminta." Yaitu, mohonlah (mintalah) kepada Aku (Allah) nisscaya Aku (Allah) akan perkenankan permohonan (permintaan) kamu itu.
Ayat ini adalah wujud dari Maha lembutnya Allah ta'ala serta nikmatNya yang agung kepada hambaNya. Karena Dia memanggil mereka (umatNya) munuju kepada kebaikan agama dan dunia mereka, yaitu dengan memerintahkan kepada mereka untuk ber"do'a" (beribadah atau meminta ) kepadaNya. (tafsir as-Sya'di).
Keempat, Doa dalam pengertian "percakapan". Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 10 dibawah ini.
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (يونس/10: 10)
Artinya: “Do'a  (percakapan) mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma" (Maha suci Engkau wahai Tuhan)  , dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam" . Dan penutup  do'a mereka ialah: "Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin" (segala puji bagi Allah seru sekalian alam). (TQS. Yunus/10: 10)
         
Maksud kata "da'waahum" adalah perkataan dan percakapan mereka. Kalimat ini adalah pensucian, Allah ta'ala suci dari segala kejelekan. (tafsir al-Baghawi).
Kelima, Doa dalam pengertian "memanggil." Seperti firman Allah dalam Al-Quran dibawah ini.
يَوْمَ يَدْعُوكُمْ (الإسراء/17: 52)
Artinya: “Yaitu pada hari Dia mendo'a (memanggil) kamu”. (TQS. Al-Israa/17: 52)
Maksud kata "doa" (yad'û) dalam ayat ini adalah "memanggil." Yaitu, pada hari, dimana Allah ta'ala menyeru (memanggil) kamu dari kubur dengan lisannya Israfil. (tafsir al-Jalalain).
Ke lima, Do'a dalam pengertian "panggilan" seperti firman Allah dalam surat an-Nuur ayat 63:
لاَ تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا (النور/24: 63)
Artinya: “Janganlah kamu jadikan do'a (panggilan) Rasul diantara kamu seperti do'a (panggilan) sebahagian kamu kepada sebahagian.”  (TQS. An-Nuur/24: 63)

Maka atas dasar uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa do'a dapat juga diartikan dengan ucapan permohonan dan pujian kepada Allah SWT. dengan cara-cara tertentu disertai kerendahan hati untuk mendapatkan kemaslahatan dan kebaikan yang ada disisi-Nya. Atau dengan istilah Al-Tîbî seperti dikutip Hasbi Al-Shidiq "do'a" adalah "Melahirkan kehinaan dan kerendahan diri serta menyatakan kehajatan (kebutuhan) dan ketundukan kepada Allah Swt."

Wednesday, 10 July 2013

Doa Buka Puasa

Beginilah nasib wahabi bernama Abu Rumaisha yang tidak mengerti ilmu hadits namun sok ngerti dan membicarakan ilmu hadits. Dalam sebuah note ia menulis:

Yuk kita buang jauh2 do'a buka puasa di bawah ini, karena derajat dari do'a tersebut dhaif & tidak sahih datangnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rezekika afthortu" HR. Abu Daud dalam Sunan-nya no. 2358 secara mursal (tidak ada perawi sahabat di atas tabi'in), dari Mu’adz bin Zuhrah. Sementara Mu'adz bin Zuhrah adalah seorang tabi'in, sehingga hadist ini mursal. Dalam ilmu hadist, hadist mursal merupakan hadist dhaif karena sanad yg terputus.

Dan mari kita hapal & amalkan do'a buka puasa yg benar seperti di bawah ini; "Dzahaba-zh Zama'u, Wabtalatil 'Uruuqu wa Tsabatal Ajru, Insyaa Allah" {HR. Abu Dawud No. 2357, Nasa'i 1/66 (artinya: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, & telah tetap ganjaran/pahala, Insha Allah)}


Silahkan cek https://www.facebook.com/photo.php?fbid=598710550151809&set=a.558018914220973.1073741827.100000386092741&type=1&comment_id=1885076&offset=0&total_comments=115&ref=notif&notif_t=mentions_comment&theater

Tanggapan:

Mengenai hadits "Dzahaba-zh Zama'u, Wabtalatil 'Uruuqu wa Tsabatal Ajru, Insyaa Allah" telah dikomentari oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalanidalam Tahzdzibut Tahdzib, bahwa di dalamnya ada rawi Marwan bin Salim Al-Muqaffi’. Dia kedudukannya majhul hal. Artinya hadits ini-pun dhaif (lemah).

Mengenai hadits "Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rezekika afthortu", mari kita simak penjelasan seeorang ulama Ahli hadits Ibnu Hajar Al-'Asqalany dalam Syarah Abu Dawud sbb:

“(Abu Dawud) mengeluarkan hadits ini dalam sunan dan “al-Marasil” dengan satu lafadz. Al-Bukhari menyebutkan nama Mu’adz sebagai tabi’in tetapi ia berkata Mu’adz Abu (Zuhrah). Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam ‘rawi tsiqat” sedangkan Al-Syairazy mencantumkannya dalam “shahabat” tapi disalahkan oleh Al-Mustagfiry.

Mungkin saja hadits ini “Maushul” walaupun Mu’adz seorang tabi’in karena ada kemungkinan ia menyampaikan dari shahabat, karenanya Abu Dawud memuatnya dalam Sunan nya dan juga dalam “Al-Marasil” (Faidhul qadir V:106)

Sedangkan bantahan yang kedua dimuat oleh al-'Asqalany dalam Tuhfatul Asyraf تحفة الأشراف ج 13 ص 313 antara lain menyebutkan bahwa kalimat BALAGHOHU memungkinkan hadits ini MAUSHUL bersambung sanadnya.

Dalam kitab Raudhatul Muhadditsin Juz 10 hlm 304, Abdul Qadir Al-Arnauth menyatakan: "Namun hadits ini memiliki syawahid yang menguatkannya. Dengan demikian hadits tersebut naik menjadi hasan.

Diantara yang memandang hadits ini hasan dan tidak mendlo'ifkannya serta tentunya MA'MUL BIH (bisa diamalkan) termuat dalam kitab Asnal Mathalib JUz 1 hlm 422, sebagai berikut:

وينبغي له أَنْ يَقُولَ بَعْدَ وفي نُسْخَةٍ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ أبو دَاوُد بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ لَكِنَّهُ مُرْسَلٌ وَرُوِيَ أَيْضًا أَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم كان يقول حِينَئِذٍ اللَّهُمَّ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Dengan demikian mari kita membaca do’a berbuka puasa dengan membaca berikut:
اللَّهُمَّ لك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت

Saturday, 29 June 2013

Fadilah dan Manfaat Sholawat

Manfaat dan Keajaiban Membawa Shalawat
  1. Membaca shalawat sebagai bentuk realisasi ketaatan kepada perintah Allah Ta’ala.
  2. Mencontoh Allah dalam membaca shalawat.
  3. mencontoh para malaikat-Nya.
  4. Mendapat balasan sepuluh rahmah dari Allah setiap membaca sekali shalawat.
  5. Diangkat sepuluh derajat karena membaca sekali shalawat.
  6. Ditulis sepuluh kebaikan bagi yang membaca sekali shalawat.
  7. Dihapus sepuluh keburukan bagi yang membaca sekali shalawat.
  8. Menjadi sebab utama dikabulkan doa.
  9. Menjadi sebab meraih syafaat Nabi.
  10. Mendapat pengampunan dari Allah.
  11. Allah akan mencukupi hidupnya dari berbagai macam keluh kesah.
  12. Sebagai sebab dekatnya seorang hamba dengan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam nanti pada hari kiamat.
  13. Shalawat bisa mengganti dan menduduki ibadah shadaqoh.
  14. Menjadi sebab terpenuhi berbagai macam hajat kebutuhan.
  15. Meraih shalawatnya Allah dan shalawatnya para malaikat atasnya.
  16. Menjadi sebab seseorang meraih kesucian dan kemuliaan.
  17. Orang yang gemar membaca shalawat akan mendapat kabar gembira sebelum matinya.
  18. Akan meraih keamanan dan keselamatan dari rintangan hari kiamat.
  19. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam akan menjawab shalawat dan salam kepada orang-orang yang membaca shalawat dan salam kepadanya.
  20. Bisa membantu seorang hamba mengingatkan sesuatu yang terlupa.
  21. Menjadi sebab berkahnya suatu majlis agar tidak kembali pulang dalam keadaan merugi dan cacat.
  22. Membaca shalawat mampu mengusir dan melenyapkan kemiskinan.
  23. Membaca shalawat mampu menghilangkan penyakit bakhil dari seorang hamba.
  24. Menjadi selamatnya seorang hamba dari doanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam yang buruk, karena beliau mendoakan celaka bagi yang mendengar nama disebut tidak membaca shalawat.
  25. Membaca shalawat menjadi jalan menuju sorga.
  26. Selamat dari busuknya majlis karena membaca shalawat.
  27. Membaca shalawat menjadi penyempurna bagi pembicaraan pada saat berkhutbah.
  28. Menjadi sebab sempurnanya cahaya seorang hamba pada saat meniti titian.
  29. Membaca shalawat akan mengeluarkan seseorang dari sifat kasar dan keras kepala.
  30. Menjadi sebab langgengnya pujian Allah atasnya.
  31. Mendatangkan keberkahan kepada orang yang membaca shalawat.
  32. Orang yang membaca shalawat akan meraih rahmat dari Allah.
  33. Sebagai bukti cinta Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam secara abadi.
  34. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam akan selalu mencintai orang yang membaca shalawat.
  35. Menjadi sebab seorang hamba meraih hidayah.
  36. Nama orang yang membaca shalawat akan disampaikan kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam
  37. Menjadi sebab teguhnya kaki pada saat meniti titian.
  38. Dengan membaca shalawat berarti seseorang telah menunaikan haknya Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam atasnya.
  39. Mengandung dzikir dan syukur kepada Allah.
  40. Shalawat adalah doa karena dengan membaca shalawat berarti telah memuji khalilullah dan kekasih-Nya. Dengan itu berarti telah mendoakan baik untuknya.

Sholawat Nariyah dan Terjemahannya

(الصلاة النارية)
اَللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ، وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ، وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ، وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ، بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ.


Teks Latin:
‎Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi fi kulli lamhatin wa nafasin bi ‘adadi kulli ma’lumilak.

Artinya :
“Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan.Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, fi kulli lamhatin wa nafasin bi ‘adadi kulli ma’lumilak.”

Monday, 24 June 2013

Asmaul Husna

Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud: "ALLAH mempunyai Asmaa-Ul-Husna (nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat ALLAH S.W.T.), maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaa-ul-husna itu." -(Surah Al-A'raf:180)

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah s.w.t mempunyai 99 nama, iaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam syurga" - Riwayat Bukhari



(أسماء الله الحسنى)
وَلِلَّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا نَسْأَلُكَ :
يَا اللَّهُ k  يَا رَحْمَنُ  k  يَا رَحِيْمُ  k  يَا مَلِكُ  k  يَا قُدُّوْسُ  k  يَا سَلاَمُ  k  يَا مُؤْمِنُ  k  يَا مُهَيْمِنُ  k  يَا عَزِيْزُ  k  يَا جَبَّارُ  k  يَا مُتَكَبِّرُ  k  يَا خَالِقُ  k  يَا بَارئُ  k  يَا مُصَوِّرُ  k  يَا غَفَّارُ  k  يَا قَهَّارُ  k  يَا وَهَّابُ  k  يَا رَزَّاقُ  k  يَا فَتَّاحُ  k  يَا عَلِيْمُ  k  يَا قَابضُ  k  يَا بَاسِطُ  k  يَا خَافِضُ  k  يَا رَافِعُ  k  يَا مُعِزُّ  k  يَا مُذِلُّ  k  يَا سَمِيْعُ  k  يَا بَصِيْرُ  k  يَا حَكَمُ  k  يَا عَدْلُ k  يَا لَطِيْفُ k  يَا خَبيْرُ k  يَا حَلِيْمُ k  يَا عَظِيْمُ k  يَا غَفُوْرُ k  يَا شَكُوْرُ k  يَا عَلِيُّ k  يَا كَبِيْرُ k  يَا حَفِيْظُ k  يَا مُقِيْتُ k  يَا حَسِيْبُ k  يَا جَلِيْلُ k  يَا كَرِيْمُ k  يَا رَقِيْبُ k  يَا مُجِيْبُ k  يَا وَاسِعُ k  يَا حَكِيْمُ k  يَا وَدُوْدُ k  يَا مَجِيْدُ k  يَا بَاعِثُ k  يَا شَهِيْدُ k  يَا حَقُّ k  يَا وَكِيْلُ k  يَا قَوِيُّ k  يَا مَتِيْنُ k  يَا وَلِيُّ k  يَا حَمِيْدُ k  يَا مُحْصِيْ k  يَا مُبْدِئُ k  يَا مُعِيْدُ k  يَا مُحْيي k  يَا مُمِيْتُ k  يَا حَيُّ k  يَا قَيُّوْمُ k  يَا وَاجِدُ k  يَا مَاجِدُ k  يَا وَاحِدُ k  يَا أَحَدُ k  يَا صَمَدُ k  يَا قَادِرُ k  يَا مُقْتَدِرُ k  يَا مُقَدِّمُ k  يَا مُؤَخِّرُ k  يَا أَوَّلُ k  يَا آخِرُ k  يَا ظَاهِرُ k  يَا بَاطِنُ k  يَا وَالِيْ k  يَا مُتَعَالِيْ k  يَا بَرُّ k  يَا تَوَّابُ k  يَا مُنْتَقِمُ k  يَا عَفُوُّ k  يَا رَؤُوْفُ k  يَا مَالِكَ الْمُلْكِ k  يَا ذَا الْجَلاَل وَالإكْرَامِ k  يَا مُقْسِطُ k  يَا جَامِعُ k  يَا غَنِيُّ k  يَا مُغْنِي k  يَا مَانِعُ k  يَا ضَارُّ k  يَا نَافِعُ k  يَا نُوْرُ k  يَا هَادِي k  يَا بَدِيْعُ k  يَا بَاقِي k  يَا وَارثُ k  يَا رَشِيْدُ k  يَا صَبُوْرُ.




 
Support : Qosim Ibn Aly | Islamic Defenders Community
Copyright © 2013. Golek Surgo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by Aliy Faizal
Proudly powered by Blogger